Monday, August 3, 2020

melepas sandal ketika masuk quburan

┏🇮🇩🔰🌸━━━━━━━━━━━━━┓
             *SALAFY  ONLINE*
┗━━━━━━━━━━━━━📚🕋📡┛

📚 *MELEPAS SANDAL KETIKA MASUK QUBURAN*

❓Pertanyaan:
Apakah melepas sandal ketika di quburan itu hukumnya sunnah atau bid’ah?

✅ Jawab:

Disyari'atkan melepas kedua sandal yang masuk area quburan. Hal ini berdasarkan riwayat Basyir bin al-Khoshoshiyah rodhiallahu 'anhu, ia mengatakan,

“Ketika aku berjalan mengiringi Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, ada seseorang berjalan di quburan mengenakan kedua sandalnya. 

💡Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam mengatakan,

يَا صَاحِبَ السَبْتِيَّتَيْنِ أَلْقِ سَبْتِيَّتَيْكَ

Hai pemakai dua sandal, tanggalkan kedua sandal kamu!

Orang itu pun menoleh. Ketika dia tahu bahwa itu ternyata Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, ia melepaskannya serta melemparkan keduanya.” (HR. Abu Dawud)

📝 Imam Ahmad rohimahullah berkata, “Sanad hadits Basyir bin al-Khoshoshiyah bagus. Aku berpendapat dengan kandungan riwayat tersebut, kecuali apabila ada penghalang.”

✔️ Penghalang yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah semacam duri, kerikil yang panas, atau yang semisal keduanya. Apabila ada penghalang itu, tidak mengapa berjalan dengan kedua sandal di antara quburan untuk menghindari gangguan itu.

Allah sajalah yang memberi taufiq. Semoga sholawat dan salam-Nya tercurah atas Nabi kita Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

(Syaikh 'Abdul 'Aziiz bin Baaz, Syaikh 'Abdurrozzaq 'Afifi, dan Syaikh 'Abdullah Ghudayyan; Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 9/123—124)


🌏 https://asysyariah.com/melepas-sandal-ketika-masuk-kuburan/
@asysyariah
#kuburan #sandal

💻📲 *Join & Share* 📡
▶ *WA Washiilatu At Tarbiyyah*
     📩 wa.me/6285232330440
↘️ *Telegram:* 
     📚 t.me/salafyonline
     🖼 t.me/salafyonline_poster
↘️ *Instagram*
     🖼 instagram.com/salafy_online
↘️ *Website:*
     🌐 www.salafyonline.net
↘️ *YouTube*
     📹 youtube.com/channel/UCJr0ghsWVOSflpSwJJGBlXQ

🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃

Sunday, August 2, 2020

ancaman bagi pelaku kemaksiatan

✋🏻⚠️❌💥 *ANCAMAN BAGI YANG BERBUAT MAKSIAT TERANG-TERANGAN*

✍🏻 Nabi _shollallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda,

كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Seluruh umatku akan dimaafkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang berbuat (maksiat) secara terang-terangan.

Di antara bentuk menampakkan maksiat adalah ketika seseorang melakukan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupinya. Namun, pagi harinya ia malah berkata, Wahai Fulan! Semalam aku telah melakukan ini dan itu.

Sungguh, pada malam itu Robbnya telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia justru membeberkan sendiri apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tutupi.”

📚 (HR. Al-Bukhori, no. 6069, dari Abu Huroiroh rodhiallahu 'anhu)

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

bersungguh-sungguh dalam menyela jari ketika berwudhu'

📶 _Petikan Kalam Salafush Sholih_
_________________________

🌐 *_MUBALAGHOH (BERSUNGGUH-SUNGGUH) DALAM MENYELA-NYELA JARI KETIKA BERWUDHU'_*

✍🏻 Dari Ibnu Mas'ud رضي اللّه عنه  berkata : 

   _"Hendaklah seseorang bersungguh-sungguh dalam menyela-nyela jari-jemarinya ketika berwudhu', atau biarkan api neraka yang akan menyela-nyelanya"._

*_(Shohih)_*
📚 *[Mushonnaf 'Abdurrozaq : 68]*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🌐 ‏[المبالغة في تخليل الأصابع]

✍🏻 عن ابن مسعود رضي الله عنه قال:

لينتهكن رجل بين أصابعه في الوضوء، أو لتنتهكنه النار.

(صحيح)
📚 مصنف عبدالرزاق ٦٨

🏷 _Sumber : https://t.me/Arafatbinhassan/3214_

🌎 *WhatsApp Salafy Cirebon*
⏯ *Channel Telegram* || https://t.me/salafy_cirebon
🖥 *Website Salafy Cirebon* :
www.salafycirebon.com


📳 _Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah_


◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻

hakikat iman

✋🏻✅🌷🍃 *HAKIKAT IMAN*

✍🏻 Ibnul Qoyyim _rohimahullah_ menerangkan, 

“Iman yang haqiqi merupakan rangkaian dari memahami syari'at yang diajarkan oleh Rosul _shollallahu 'alaihi wa sallam_, mempercayainya dengan penuh keyaqinan, mengikrarkannya dengan lisan, tunduk patuh kepadanya dengan kecintaan dan kerendahan diri, meng'amalkannya lahir dan bathin, menghayatinya serta menda'wahkannya dengan semaksimal mungkin.

Iman menjadi sempurna dengan cinta dan benci karena Allah, memberi dan menahan atas dasar perintah Allah, dan menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sembahan. 

Adapun jalan menuju Allah adalah dengan totalitas mengikuti Sunnah Rosul-Nya lahir bathin dan menjaga qolbunya agar tidak berpaling kepada selain Allah dan Rosul-Nya.”

📚 (Al-Fawaid hlm. 103)

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Saturday, August 1, 2020

sumber kerusakan di muka bumi

✋🏻❌⚠️💥 *SYIRIK MERUPAKAN SUMBER KERUSAKAN*

Allah _'Azza wa jalla_ berfirman,

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit dan bumi) telah rusak binasa. Mahasuci Allah yang memiliki Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya: 22)

Ibnul Qoyyim _rohimahullah_ menjelaskan, 

“Sesungguhnya tegaknya langit dan bumi serta seluruh makhluq, bertumpu pada penghambaan kepada Allah Yang Mahatunggal. Kalau mereka menyembah selain Allah, akan timbul kerusakan pada diri mereka.”

📚 (Thoriqul Hijrotain hlm. 70)

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

ketentuan syari'at di hari-hari tasyriq

💐📝BEBERAPA KETENTUAN SYARI'AT DI HARI-HARI TASYRIQ

Hari-hari tasyriq adalah tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah. Disebut tasyriq karena orang-orang mengiris-iris daging (membuat dendeng) dari daging binatang qurban kemudian menjemurnya di panas matahari (al-Minhaaj syarh Shohih Muslim bin al-Hajjaj karya anNawawiy (8/17)).

Beberapa ketentuan syari'at di 3 hari tersebut, di antaranya adalah:

1. Larangan berpuasa di hari-hari tasyriq.

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum (H.R Muslim dari Nubaisyah al-Hudzaliy)

عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَوْمِ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنَ السَّنَةِ ، ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنَ التَّشْرِيقِ ، وَيَوْمِ الْفِطْرِ ، وَيَوْمِ الأَضْحَى ، وَيَوْمِ الْجُمُعَةِ ، مُخْتَصَّةً مِنَ الأَيَّامِ

Dari Anas ia berkata: Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam melarang berpuasa 6 hari dalam setahun. Tiga hari tasyriq, hari Iedul Fithri, hari Iedul Adha, dan hari Jum'at yang dikhususkan (untuk berpuasa) (H.R atThoyaalisiy dan lainnya, dishohihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shohihah)

Diperkecualikan bolehnya berpuasa di hari-hari tasyriq adalah untuk jama'ah haji yang berhaji secara tamattu’ atau qiron namun tidak memiliki kemampuan menyembelih hadyu.

'Aisyah dan Ibnu 'Umar –semoga Allah meridhoi keduanya- menyatakan:

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

Tidaklah diberi keringanan untuk berpuasa di hari-hari tasyriq kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hadyu (H.R al-Bukhori)

Walaupun yang lebih utama bagi jama'ah haji yang tidak memiliki hadyu itu untuk berpuasa sebelum hari 'Arofah.

2. Perintah untuk lebih banyak berdzikir

Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ...  

dan berdzikirlah (mengingat) Allah di hari-hari yang berbilang...(Q.S al-Baqoroh ayat 203)

“Hari-hari yang berbilang” itu ditafsirkan oleh Shahabat Nabi Ibnu 'Abbas sebagai hari-hari tasyriq (Tafsir Ibn Katsir)

Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ طُعْمٍ وَذِكْرِ اللَّهِ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan berdzikir (mengingat) Allah (H.R Ahmad dari Abu Huroiroh)

Termasuk masih disunnahkannya takbir muthlaq di berbagai keadaan, di setiap waktu sejak masuk 1 Dzulhijjah hingga berakhirnya hari tasyriq. Demikian juga takbir muqoyyad di setiap selesai sholat 5 waktu berlaku sejak setelah sholat Subuh hari 'Arofah sampai setelah sholat 'ashr di tanggal 13 Dzulhijjah (Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah no 10777).

3. Hari-hari penyembelihan qurban.

Selain saat hari raya Iedul Adha (selepas sholat Ied), penyembelihan qurban juga boleh dilaksanakan di hari-hari tasyriq. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh al-Imam asy-Syafi’i. Di antara dalilnya adalah hadits:

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

Semua hari tasyriq adalah penyembelihan (H.R Ahmad, al-Baihaqiy, ad-Daaraquthniy, al-Bazzaar, dishohihkan Ibnu Hibban dan dihasankan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shohihah)

Ada sebagian riwayat ucapan Shahabat yang membatasi penyembelihan qurban hanya pada tanggal 10,11, dan 12 Dzulhijjah.

4. Hari-hari para Jama'ah Haji melontar Jumroh dan bermalam di Mina.

Melontar jumroh bagi jama'ah haji ada yang dilakukan di tanggal 10 Dzulhijjah, yaitu melontar jumroh al-Aqobah saja. Waktunya dilakukan setelah terbit matahari. Sedangkan pada saat hari-hari tarwiyyah, sasaran melempar jumroh adalah pada 3, yaitu Jumrotul Ula, Jumrotul Wustho, dan Jumrotul Kubro/ Jumrotul ‘Aqobah. Waktu pelaksanaan Jumroh pada hari-hari tasyriq haruslah setelah tergelincir matahari.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى وَأَمَّا بَعْدُ فَإِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ

Dari Jabir rodhiyallahu 'anhumaa beliau berkata: Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam melempar jumroh pada hari anNahr (10 Dzulhijjah) pada waktu Dhuha, sedangkan setelahnya (di hari Tasyriq) beliau melempar jika matahari telah tergelincir (H.R Muslim)

Pada hari Tarwiyah setelah masuk waktu zhuhur, melontar 3 Jumroh. Awalnya adalah Jumroh al-Ula (yang terjauh dari Ka’bah), setelah itu berpindah dan menghadap kiblat berdo'a. Kemudian melontar jumroh al-Wustho (di tengah). Setelah itu berpindah dan menghadap kiblat berdo'a. Kemudian melontar jumroh al-Aqobah.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الْجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ عَلَى إِثْرِ كُلِّ حَصَاةٍ ثُمَّ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ فَيَقُومَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلًا وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ ثُمَّ يَرْمِي الْوُسْطَى ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُ وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلًا وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُومُ طَوِيلًا ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ الْعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الْوَادِي وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُولُ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

Dari Ibnu 'Umar rodhiyallahu 'anhumaa bahwasanya beliau melempar jumroh yang terdekat (Ula) dengan 7 kali lemparan kerikil. Beliau bertakbir setiap kali lemparan. Kemudian beliau maju hingga sampai di permukaan yang datar beliau berdiri menghadap kiblat dalam jangka waktu yang lama berdo'a mengangkat kedua tangan. Kemudian melempar jumroh al-Wustho kemudian mengambil jalan sebelah kiri pada daratan rata kemudian berdiri menghadap kiblat berdiri lama berdo'a mengangkat kedua tangan berdiri lama. Kemudian melempar jumroh Aqobah dari perut lembah. Beliau tidak berdiri di sampingnya kemudian beliau pergi. Beliau berkata: Demikianlah aku melihat Nabi shollallahu 'alaihi wasallam melakukannya (H.R al-Bukhori)

Mabit (bermalam) di Mina di malam tanggal 11,12, dan 13 adalah wajib. Kecuali bagi yang memiliki udzur.

Seorang jama'ah haji boleh memilih untuk bermalam hanya di malam 11 dan malam 12 saja. Hal itu disebut dengan Nafar al-Awwal. Namun lebih sempurna jika ia menyempurnakan bermalam juga di malam 13. Jika ia menyempurnakan bermalam di Mina sampai malam 13, hal itu disebut Nafar ats-Tsaniy.

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dan berdzikirlah (mengingat) Allah dalam hari-hari yang berbilang (hari-hari tasyriq). Barangsiapa yang menyegerakan dalam 2 hari (11 dan 12 Dzulhijjah) tidak ada dosa baginya. Barangsiapa yang mengakhirkan (hingga 13 Dzulhijjah), tidak ada dosa baginya bagi orang yang bertaqwa. Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya kalian hanya kepadaNya akan dikumpulkan (Q.S al-Baqoroh ayat 203)

Ayat itu menjelaskan bolehnya melakukan Nafar Awwal, hanya bermalam di malam 11 dan 12 Dzulhijjah. Siang hari 12 Dzulhijjah ia melempar jumroh setelah zhuhur, kemudian ia meninggalkan Mina sebelum terbenam matahari. Namun, Nafar ats-Tsaniy lebih utama, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dan lebih banyak aktivitas ibadah yang dilakukan dibandingkan Nafar al-Awwal.

Seseorang yang awalnya berkeinginan untuk melakukan Nafar al-Awwal, tapi saat terbenam matahari masuk malam ke-13 Dzulhijjah ia masih berada di Mina, maka ia harus menyempurnakan Mabit semalam lagi dan besoknya melontar jumroh setelah zhuhur.

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ مَنْ غَرَبَتْ لَهُ الشَّمْسُ مِنْ أَوْسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَهُوَ بِمِنًى فَلَا يَنْفِرَنَّ حَتَّى يَرْمِيَ الْجِمَارَ مِنْ الْغَدِ

Dari Nafi’ bahwasanya 'Abdullah bin 'Umar rodhiyallahu 'anhumaa berkata: Barangsiapa yang saat terbenam matahari di tengah hari-hari tasyriq ia masih di Mina, janganlah melakukan nafar (keluar dari Mina) hingga melempar jumroh keesokan harinya (tanggal 13 Dzulhijjah)(H.R Malik dalam Muwaththo’)

(Abu 'Utsman Khorisman)

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

hikmah dzikir pagi dan sore

✋🏻✅🍃🌷 *FAIDAH PENTING DZIKIR PAGI & PETANG*

Rosulullah _shollallahu 'alaihi wa sallam_ mengajarkan dan mencontohkan dzikir untuk mengingatkan jiwa akan kebesaran dan keagungan Allah di setiap pagi dan petang. Kalimat tauhid terangkai indah dengan do'a. Permohonan terlantun dari lisan, menuntun jiwa untuk menghayatinya. 

Simak keterangan Ibnul Qoyyim berikut ini.

“Ketika seorang hamba di pagi dan petang harinya tidak memiliki tekad kecuali Allah semata, maka Dia akan menanggung semua kebutuhannya. Dia akan menjamin dari segala hal yang menyedihkannya, melapangkan qolbunya untuk mencintai-Nya, menuntun lisannya untuk berdzikir menyebut-Nya, dan membimbing badannya dalam keta'atan kepada-Nya. 

Adapun jika seorang hamba di pagi dan sore harinya hanya bertekad untuk dunia, Allah akan menyerahkan padanya kesedihan dunia, kegundahan, dan kesulitannya. Allah menyerahkannya kepada dirinya sendiri (Allah tidak akan menolongnya). Qolbunya pun akan terpenuhi dengan kecintaan terhadap makhluq. Tidak ada ruang lagi untuk cinta kepada Allah. Tidak sempat lisan berdzikir karena terus menyebut tentang mereka. Sibuk badannya untuk berkhidmat melayani mereka daripada untuk beribadah pada Allah. 

Siapa saja yang berpaling dari penghambaan kepada Allah, keta'atan pada-Nya, dan kecintaan-Nya, dia akan tertimpa musibah berupa penghambaan kepada makhluq, melayani mereka, dan cinta kepadanya. Allah berfirman, 

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ

“Barang siapa yang berpaling dari mengingat Ar-Rohman, Kami jadikan baginya syaithon menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)

📚 (Al-Fawaid hlm. 81, Faidah Jalilah no. 43)

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎