Sunday, February 17, 2019

Hikmah penyebutan rukun iman secara tertib

HIKMAH PENYEBUTAN RUKUN IMAN SECARA TERTIB

✍Mufti: Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebutkan secara tertib rukun iman dalam beberapa hadits khususnya hadits Jibril bahwa rukun iman itu: iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik dan yang buruk. Adakah hikmah yang bisa diketahui dari urutan rukun iman ini?

Jawaban:
Ada hikmahnya---wallahu a'lam---pada penyebutan secara tertib rukun iman dalam ayat dan hadits, meskipun huruf wawu yang digunakan ini tidak berkonsekuensi tertib.

Rukun iman ini dimulai penyebutannya dengan iman kepada Allah. Karena iman kepada Allah adalah dasar iman dan rukun yang lainnya mengikuti rukun ini. Kemudian disebutkan iman kepada para malaikat dan para rasul. Karena mereka perantara antara Allah dan makhluk-Nya dalam menyampaikan risalah-Nya. Malaikat menurunkan wahyu kepada para rasul lalu para rasul menyampaikannya kepada manusia. Allah Ta'ala berfirman:

يُنَزِّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ بِالرُّوْحِ مِنْ اَمْرِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اَنْ اَنْذِرُوْٓا اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاتَّقُوْنِ
Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, "Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku." (An Nahl:2

Kemudian disebutkan iman kepada kitab-kitab. Karena kitab-kitab-Nya ini hujjah dan rujukan yang dibawa oleh para utusan dari kalangan malaikat dan nabi yang berasal dari sisi Allah untuk menghukumi di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Allah Ta'ala berfirman:

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِاِذْنِهٖ ۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. (Al Baqarah:213)

Kemudian disebutkan iman kepada hari akhir, karena hari ini adalah saat dijanjikannya pembalasan atas amal saleh yang merupakan buah iman  kepada Allah, malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya ataukah mendustakan kepada rukun iman ini. Sehingga keadilan tuhan berkonsekuensi menegakkan hari diputuskannya perkara antara yang zalim dan dizalimi dan menegakkan keadilan antara manusia. Kemudian disebutkan keimanan kepada qada (keputusan) dan takdir karena pentingnya dalam mendorong seorang mukmin beramal saleh, melakukan sebab-sebab yang bermanfaat dengan menyandarkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi antara syariat Allah yang dengannya diutus para rasul-Nya dan diturunkan kitab-kitab-Nya dan antara qada' dan takdir-Nya. Berbeda dengan orang yang berdalih dengan takdir dari kalangan ahlul bid'ah dan kaum musyrikin yang mereka mengatakan:

وَقَالَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا لَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُوْنِهٖ مِنْ شَيْءٍ نَّحْنُ وَلَآ اٰبَاۤؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُوْنِهٖ مِنْ شَيْءٍ ۗ كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚفَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ
Dan orang musyrik berkata, "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya."  (An Nahl:35)

Mereka membenarkan kekafiran yang ada pada mereka dengan dalih Allah telah menakdirkannya atas mereka dan jika Allah telah menakdirkannya atas mereka, berarti Allah telah meridhai itu dari mereka---menurut anggapan mereka--. Maka, Allah membantah mereka, bahwa seandainya Allah meridhai kekafiran mereka, Allah Ta'ala tidak akan mengutus para rasul-Nya untuk mengingkari kekafiran mereka. Allah Ta'ala berfirman:

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

Bukankah kewajiban para Rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.(An Nahl:35)

📘Al Muntaqa Min Fatawa al Fauzan, Juz 1, fatwa nomer 4, jilid juz 1

📱http://t.me/ukhwh

سُئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان ـ حفظه الله ـ :

ـ رتب الرسول صلى الله عليه وسلم أركان الإيمان في عدة أحاديث - خاصة حديث جبريل - بأنها‏:‏ الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقدر خيره وشره؛ فهل هنا حكمة معلومة من هذا الترتيب ‏؟‏

هناك حكمة - والله أعلم - في ترتيب أركان الإيمان في الآيات والأحاديث، وإن كانت الواو لا تقتضي ترتيبًا‏:‏ فقد بدئت هذه الأركان بالإيمان بالله؛ لأن الإيمان بالله هو الأساس، وما سواه من الأركان تابع له‏.‏ ثم ذكر الإيمان بالملائكة والرسل؛ لأنهم الواسطة بين الله وخلقه في تبليغ رسالاته؛ فالملائكة تنزل بالوحي على الرسل، والرسل يبلغون ذلك للناس؛ قال تعالى‏:‏ ‏{‏يُنَزِّلُ الْمَلآئِكَةَ بِالْرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُواْ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاتَّقُونِ‏}‏ ‏[‏النحل‏:‏2‏]‌‏.‏ ثم ذكر الإيمان بالكتب؛ لأنها الحُجّة والمرجع الذي جاءت به الرُّسل من الملائكة والنبيِّين من عند الله للحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه؛ قال تعالى‏:‏ ‏{‏فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ لِمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ‏}‏ ‏[‏البقرة‏:‏213‏]‌‏.‏ ثم ذكر الإيمان باليوم الآخر؛ لأنه ميعاد الجزاء على الأعمال التي هي نتيجة الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله أو التكذيب بذلك؛ فكان مقتضى العدالة الإلهية إقامة هذا اليوم للفصل بين الظالم والمظلوم، وإقامة العدل بين الناس‏.‏ ثم ذكر الإيمان بالقضاء والقدر لأهميته في دفع المؤمن إلى العمل الصالح، واتخاذ الأسباب النافعة، مع الاعتماد على الله سبحانه، وبيان أنه لا تناقض بين شرع الله الذي أرسل به رسله وأنزل به كتبه وبين قضائه وقدره؛ خلافًا لمن زعم ذلك من المبتدعة والمشركين الذين قالوا‏:‏ ‏{‏وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلا آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ‏}‏ ‏[‏النحل‏:‏35‏]‏؛ سوغوا ما هم عليه من الكفر بأن الله قدّره عليهم، وإذا قدّره عليهم؛ فقد رضيه منهم - بزعمهم -، فردّ الله عليهم بأنه لو رضيه منهم؛ ما بعث رسله بإنكاره، فقال‏:‏ ‏{‏فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاغُ الْمُبِينُ‏}‏ ‏[‏النحل‏:‏35‏]‌‏.‏

منقول من برنامج : المنتقى من فتاوى الفوزان
الجزء الأول ، الفتوى رقم : 4
فهرس الجزء الأول

No comments:

Post a Comment