Wednesday, November 18, 2020

sang tauladan bagi para penuntut 'ilmu

✅💡📜
 SEMESTINYA BELIAU MENJADI TAULADAN BAGI KITA DALAM MENUNTUT 'ILMU

Beliau adalah Abu Muhammad, Sa’id bin al-Musayyib. Berasal dari suku Quroisy, keturunan dari Bani Makhzum. Seorang yang sangat ber'ilmu di antara penduduk kota Madinah serta pemuka para tabi’in di masanya.       

Beliau dilahirkan pada tahun 15 Hijriah, setelah pemerintahan ‘Umar bin Al-Khoththob berjalan dua atau empat tahun. Ayah dan kakeknya adalah shahabat Rosulullah ﷺ. Sa’id tumbuh dalam suasana ke'ilmuan, perjalanan hidupnya dipenuhi dengan mempelajari 'ilmu dan mengajarkannya.

Sungguh Allah akan mengangkat derajat hamba-hamba yang beriman dan melebihkan orang-orang yang ber'ilmu di antara mereka. Hal inilah yang tampak pada diri Sa’id. Sejak kecil beliau telah berjanji untuk menuntut 'ilmu agama.       

Dalam perjalanan ke'ilmuannya, Sa’id berguru kepada para shahabat besar; ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Tsabit, Sa’ad bin Abi Waqqosh, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan selainnya rodhiyallahu 'anhum. Beliau juga mempelajari 'ilmu dari Ummul Mu'minin ‘Aisyah dan juga Ummu Salamah rodhiyallahu 'anhunna. Sa’id adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits dari Abu Huroiroh yang tak lain adalah mertuanya. Pernikahannya dengan putri Abu Huroiroh menjadikan beliau orang yang paling memahami hadits-hadits yang diriwayatkan darinya.       

Sejak usia muda, Sa’id banyak melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan hadits Nabi ﷺ. Beliau pernah bertutur, “Apabila aku tidak mengetahui suatu hadits, sementara di tempat lain ada yang mengetahuinya, tentulah aku akan berjalan beberapa hari dan malam untuk mencari satu hadits tersebut.”

Pada puncaknya, Sa’id menjadi satu dari al-Fuqoha ’as-Sab’ah (Tujuh Ulama Ahli Fiqih) di kota Madinah. Bahkan disebutkan bahwa beliau adalah pemuka para ahli fiqih, serta paling tahu tentang hukum halal dan harom.

Demi mendapatkan kemudahan dalam meraih 'ilmu, beliau pun memilih menikah dengan putri gurunya, Abu Huroiroh yang hidup dalam kefaqiran. Padahal, sangat mungkin bagi beliau mendapatkan istri bernasab mulia dari kalangan Quroisy sebagaimana kedudukan beliau sendiri.     

Hal ini pula yang Sa’id pilihkan untuk putrinya. Mengutamakan agama dan kehidupan akhirat daripada kesenangan dunia. Tersebutlah kisah penolakan beliau terhadap pinangan kholifah ‘Abdul Malik bin Marwan untuk al-Walid, putranya. Seorang ayah yang mengkhawatirkan keteguhan agama putrinya, lantaran gelimang harta dan kemewahan sebagai istri kholifah.       

Mena'jubkan, beliau justru menikahkan putrinya dengan Ibnu Abi Wada’ah, seorang yang tekun menghadiri majelis 'ilmu di Masjid Nabawi dan paling sering mengikuti majelis Sa’id bin al-Musayyib. Seorang faqir yang baru saja menduda, menikahi putri tokoh terkemuka hanya dengan mahar dua dirham saja.

Tatkala beliau mengalami sakarotul maut, Sa’id masih meninggalkan uang seratus dinar untuk keluarganya. Lalu beliau berseru kepada Robbnya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa tidaklah aku meninggalkan dinar-dinar ini melainkan agar aku bisa menjaga keluargaku dan agamaku.”

Pada tahun 94 Hijriah, hamba yang sholih ini menghadap Robbnya. Tahun tersebut dikenal juga dengan Tahun Fuqoha’ dikarenakan sejumlah 'ulama ahli fiqih meninggal di tahun itu.       

Sa’id bin al-Musayyib wafat pada usia 79 tahun. Semoga Allah merahmatinya.

🔎 Isi artikel ini dinukil dari :
https://bit.ly/2HMluR4

📮Boleh Join & Share :
http://simpellink.com/medsosuak

🔰 UKHUWAH ANAK KULIAH 🔰
•• ══ ❁✿❁══ ••

No comments:

Post a Comment