Tuesday, February 9, 2021

'ilmu kita tidak akan pernah bisa meliput kebesaran Allah

‌‌🍃🌸 *MENJAWAB SYUBHAT ORANG YANG MERAGUKAN SIFAT TURUN BAGI ALLAH PADA SEPERTIGA MALAM TERAKHIR* 

 _Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin rohimahullah_ 

 *Pertanyaan* :

Telah ma'lum bahwasanya malam itu beredar diatas bumi yang bulat. Dan Allah itu Turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Maka konsekuensi hal itu setiap malam Dia berada di langit dunia. Bagaimana jawaban atas hal itu?

 *Jawaban :* 

Yang wajib atas kita semua adalah beriman dengan apa yang Allah sifatkan dan namakan DiriNya di dalam kitabNya atau melalui lisan RosulNya :
1. Tanpa Tahriif (menyelewengkan)
2. Tanpa ta’thiil (menolak SifatNya)
3. Tanpa takyiif (membagaimanakan Sifat-Nya)
4. Tanpa tamtsiil (menyerupakan dengan makhluqNya).

Maka Tahrif (menyelewengkan) dalam nash-nash.
Ta’thiil (menolak) di dalam keyaqinan.
Takyif (membagaimanakan) di dalam sifat.
Tamtsil (menyerupakan) di dalam sifat juga, hanya saja Tamtsil ini lebih khusus daripada Takyif, karena Tamtsil itu adalah Takyif yang terikat dengan yang dipermisalkan.

Maka kita wajib membersihkan aqidah kita dari empat perkara yang terlarang ini.
Wajib atas setiap Insan untuk mencegah dirinya dari bertanya : “mengapa” dan “bagaimana” dalam apa-apa yang berkaitan dengan Asma Allah dan Sifat-Nya.

Demikian juga ia wajib mencegah dirinya untuk berfikir menghayal tentang Bagaimana Sifat Allah.

Dan apabila seorang insan menempuh jalan ini, niscaya dia akan banyak mengalami ketenangan.
Dan ini adalah keadaannya para Salaf Semoga Allah merahmati mereka. Oleh karena itu pernah ada seorang yang datang menghadap imam Malik bin Anas rohimahullah lalu dia bertanya :

Wahai Aba 'Abdillah, ayat :

الرحمن على العرش استوى

“ _Dzat Yang Maha Pengasih beristiwa dibatas Arsy.”_ 
 *(QS. Thoha 5)* 

Bagaimana itu Istiwa-nya (bersemayam) Allah?

Maka Imam Malik langsung menundukkan kepalanya dan berkeringat, lalu Beliau berkata :
Istiwa (bersemayam) itu tidaklah majhul, [Yakni sudah diketahui maknanya]
Dan bagaimananya itu tidak bisa dijangkau oleh akal kita,
Beriman dengan hal ini hukumnya wajib,
Dan bertanya tentang bagaimana bersemayamnya (Istiwa) Allah itu adalah bid’ah. Dan tidaklah aku melihat dirimu, kecuali seorang ahli bid'ah.”

Inilah orang yang mengatakan :
“Sesungguhnya Allah itu turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir setiap malam, maka mengharuskan dari hal ini, setiap malam Allah itu berada di langit dunia. Karena malam itu senantiasa berputar di seluruh bumi.
Maka sepertiga malam itu berpindah-pindah dari tempat yang ini ke tempat yang lainnya.

🎙 *Jawabannya, kita katakan kepadanya :* 

Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan oleh para shahabat, yang semoga Allah meridhoi mereka semuanya.

Seandainya hal itu terbetik di dalam hati seorang mu'min yang tunduk kepada Allah, niscaya Allah dan RosulNya akan menjelaskannya.
Dan kita katakan selama sepertiga malam terakhir itu ada di arah ini, maka sifat Turun di sana betul-betul ada. Kapan malam sudah berakhir maka sifat Turun itu berhenti.

Dan kita tidak bisa menjangkau hakikat sifat Turunnya Allah. Dan 'ilmu kita tidak bisa meliputi-Nya.
Dan kita mengetahui kalau bahwasanya Allah itu tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan wajib bagi kita untuk berpasrah diri.

Dan hendaknya kita katakan :

 *Kami patuh dan kami beriman kami mengikut dan kami ta'at. Inilah tugas kita.* 

📑 *Fatwa Arkan Al-Islam 94-95* 
@ahlussunnahposo
#syubhat #turun #sepertiga #malam #allah

↘️ *Gabung Dan Bagikan:*
📚 https://t.me/salafyonline
🌎 simpellink.com/salafyonline

🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃

No comments:

Post a Comment