🇮🇩 KEWAJIBAN RAKYAT 🇮🇩
▪Telah diketahui secara pasti dari ajaran islam, tidak ada agama kecuali dengan adanya komunitas, tidak ada komunitas kecuali dengan adanya pemimpin, tidak ada pemimpin kecuali dengan adanya sikap menta'ati dan mendengar.
▪Keluar dari keta'atan terhadap pemerintah dan membelot adalah sebab terbesar rusaknya Negara dan manusia serta melencengnya dari jalan petunjuk.
✔Al Hasan Al Bashri Rohimahullah menyatakan, Demi Allah Ta'ala, agama tidak akan lurus kecuali dengan adanya pemerintah meskipun jahat dan zholim.
✔Demi Allah kebaikan yang Allah Ta'ala berikan dengan adanya mereka (Pemerintah) jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang mereka rusak (As Sunnah Fima Yata'allaq Bi Waliyyim Ummah).
▪Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan hubungan komunitas manusia dengan pemimpinnya, syari'at telah menjelaskan tentang tugas dan kewajiban rakyat terhadap pemerintahnya, sehingga terjalinlah ta'awwun (Kerjasama) yang baik antara keduanya diatas kebajikan dan taqwa.
Allah Ta'ala berfirman: Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan dan dosa (Al Maidah:2).
▪Diantara kewajiban yang harus ditunaikan dengan Baik oleh rakyat.
1⃣. Ikhlash dan Mendo'akan.
Inilah kewajiban yang pertama yang dipikul oleh rakyat, yaitu ikhlash menyukai segala kebaikan untuk mereka dan membenci segala kejelekan untuk mereka serta tidak lupa untuk mendo'akan kebaikan dan Taufiq, karena kebaikannya adalah berarti kebaikan Rakyat.
✔Al Imam Fudhoil bin 'Iyadh Rohimahulloh menyatakan, Seandainya aku mendapat bagian harta dari Baitul Mal, aku akan mengambilnya lalu aku gunakan untuk membuat makanan. Lalu aku undang orang orang yang sholih dan terpandang. Setelah selesai, akan kukatakan kepada mereka, mari kita berdo'a kepada Robb kita agar memberi Taufiq kepada pemimpin kita dan seluruh pihak yang mengatur urusan urusan kita (Sirajul Muluk).
▪Kewajiban Rakyat adalah mendo'akan pemerintah, walaupun jahat dan zholim sekalipun, bukan memberontaknya.
✔Al Imam Al Barbahari Rohimahullah menegaskan, Apabila anda melihat ada orang yang mengajak melakukan pemberontakan kepada pemerintah, ketahuilah bahwa ia adalah pengikut Hawa nafsu.
👉🏿👂🏻Kalau Anda mendengar ada orang yang mendo'akan pemerintah ketahuilah bahwa dia pengikut Sunnah, In syaa Allah. (Syarhussunnah).
2⃣.Menghormati dan Memuliakan.
▪ Syari'at telah mewajibkan atas umat untuk memuliakan dan menghormati Umaro' Dalam waktu yang bersamaan syari'at juga melarang dari mencela, merendahkan, dan menghina mereka. Semua itu agar kewibawaan dan Kharisma Umaro' tetap terjaga dimata Rakyat, sehingga terciptalah Keharmonisan dan Kemashlahatan dalam segala hal. Sehubungan dengan Hal itu,
✔Al Imam Sahl bin 'Abdullah Ats Tsauri Rohimahulloh berkata, Manusia akan tetap baik (Keadaannya) selama mereka memuliakan pemerintah dan 'ulama. Jika mereka memuliakan keduanya, Maka Allah Ta'ala akan memperbaiki keadaan Dunia Akhiratnya. Sebaliknya, jika mereka meremehkan keduanya, maka Allah Ta'ala akan merusak dunia dan akhiratnya (As Sunnah lil Imam Al Khollal).
✔Diriwayatkan dari Shahabat Abu Musa Rodhiyallohu 'anhu, Termasuk mengangunggkan Allah Ta'ala: Memuliakan orang tua Muslim, penghafal Al Qur'an dan pemerintahan yang adil (Riwayat Abu Dawud).
✔Asy Syaikh 'Abdurrohman As Sa'di Rohimahulloh menjelaskan. Termasuk mengangungkan Allah Ta'ala adalah memuliakan pemerintah yang adil, siapa yang melakukannya, maka akan masuk dalam salah satu tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta'ala dihari yang tidak ada naungan Nya (Nurul Bashoir wal Albab).
3⃣.Mendengar dan Ta'at.
▪Mendengar dan Ta'at adalah kewajiban Rakyat yang paling besar terhadap pemerintahnya, karena ketaatan merupakan landasan dan kunci berjalannya semua urusan negara dan masyarakat, kunci terwujudnya program, serta kunci tercapainya tujuan yang berkaitan dengan Agama dan Dunia. Pemerintah memiliki wewenang untuk memerintah dan melarang. Hal itu tidak mungkin terealisasi kecuali dengan adanya sikap mendengar dan Ta'at dari pihak rakyat.
✔Untuk itulah, shahabat 'Umar bin Al Khoththob Rodhiyallohu 'anhuma mengatakan. Tidak ada islam tanpa ada jama'ah (Komunitas), tidak ada Jama'ah tanpa ada pemimpin, dan tidak ada pemimpin tanpa ada keta'atan. (Jami' Bayanil 'ilmi wa Fadhil).
▪Allah Ta'ala berfirman, Wahai orang orang yang beriman, ta'atilah Allah dan Ta'atilah Rosul (Muhammad), dan ulil amri diantara kalian. (An Nisa:59).
✔Asy Syaikh bin Baaz Rohimahulloh mengatakan, Ayat ini adalah Nash (Dalil) tentang wajibnya Ta'at kepada ulil amri yaitu Umaro' dan 'Ulama'.
Hadits-hadits Shohih dari Rosululloh telah menerangkan bahwa keta'atan ini adalah sesuatu yang harus, bahkan wajib, dalam perkara ma'ruf.
▪Adapun keluar dari keta'atan terhadap Umaro' dan membelot dengan mengadakan penyerangan atau selainnya, itu adalah bentuk kemaksiatan dan penentangan terhadap Allah ta'ala dan RosulNya serta penyelisihan Terhadap Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah dan Salaful Ummah.
(Nasihah Muhimmah).
✔Ibnu Rojab Al Hanbali Rohimahulloh menegaskan, Mendengarkan dan Ta'at kepada pemerintah muslimin melahirkan kebaikan didunia dan kemashlahatan manusia dalam kehidupannya. Bahkan itu dapat membantu mereka menampakkan agama dan keta'atan kepada Robbnya. (jami'ul ulum Wal Hikam).
4⃣. Menyampaikan Nasihat dan mengingatkan.
▪Pemerintah bukanlah pihak yang ma'shum alias terjaga dari melakukan kesalahan. Mereka pada dasarnya adalah manusia biasa, kadang berbuat benar dan kadang berbuat yang salah. Maka dari itu, sampai kapanpun, mereka membutuhkan nasihat dan arahan-arahan yang baik. Menyampaikan nasihat kepada mereka dengan benar adalah bagian dari pilar Islam dan petunjuk orang orang sholih terdahulu.
✔Rasululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam bersabda, Agama adalah Nasihat, kami bertanya (Kata para shahabat), untuk siapa? Beliau menjawab Untuk Allah, Rosul Nya, kitab Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk kaum muslimin pada umumnya.(HR.MUSLIM).
✔Ibnu Rojab Al Hanbali Rohimahulloh berkata, Nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin berarti menginginkan kebaikannya, kelurusannya, dan keadilannya, serta menginginkan agar umat bersatu dibawahnya dan membenci perpecahan. Kemudian juga memuliakannya dan membantunya dalam kebenaran serta mengingatkannya dengan baik dan lembut, mengubur keinginan untuk menggulingkannya dan justru mendo'akannya dengan taufiq dan kebaikan.
(Jami'ul Ulum Wal Hikam).
✔Asy syaikh 'Abdurrohman as Sa'di Rohimahulloh menjelaskan, para pemimpin kaum muslimin adalah pemerintah mereka dari yang paling tinggi jabatannya hingga paling bawah. Karena kewajiban yang mereka pikul itu lebih berat dibandingkan dengan yang lain, wajib menasihatinya sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Nasihat itu diantaranya adalah mengakui kepemimpinannya dan pemerintahnnya, wajib mena'atinya dalam hal yang baik dan mendorong rakyat kepada hal itu, menunaikan segala perintahnya yang tidak menyelisihi perintah Allah ta'ala dan Rosul Nya. Kemudian mendo'akan mereka dengan kebaikan dan taufiq, tidak mencelanya, atau menyebarkan kejelekan-kejelekannya, karena hal itu akan menimbulkan kerusakan yang besar. Siapa saja yang melihat diantara mereka ada yang melakukan sesuatu yang tidak baik, hendaknya segera untuk mengingatkannya secara sembunyi-sembunyi, tidak terang-terangan, dengan lemah lembut dan bahasa yang mengena sesuai keadaan. Inilah yang harus ditempuh dan diberlakukan kepada setiap orang, terkhusus pemerintah. Sebab, mengingatkan pemerintah itu memiliki kebaikan sekaligus menjadi bukti kejujuran dan keikhlashan.
5⃣. Membela dan Membantu.
▪Kewajiban rakyat berikutnya terhadap pemerintah ialah membela dan membantu, dalam artian bekerja sama dengan pemerintah dalam mewujudkan kemajuan disegala bidang, baik yang bersifat eksternal seperti berjihad melawan musuh dengan harta dan jiwa, atau yang sifatnya internal seperti mengembangkan perindustrian, pertanian, memperbaiki moral, akhlaq, dan lain lain.
▪Wajib bagi rakyat untuk memberikan pembelaan terhadap pemerintahnya, ketika ada sebagian pihak yang melanggar hak-haknya seperti ketika ada pihak yang ingin memberontaknya dan melepaskan keta'atan kepadanya, membelanya berati membela kaum muslimin dan menjaga kehormatan agama (Fiqh Siyasah As Syar'iyah) Nabi Bersabda, Siapa yang datang kepada kalian sedangkan pengaturan urusan kalian ada dibawah seseorang yang menjadi pemimpin kalian dan dia datang hendak memecah belah kesatuan kalian maka penggalah lehernya (Perangilah).
(HR:MUSLIM).
✔Al Imam Nawawi Rohimahulloh menjelaskan, dalam hadits ini, ada perintah untuk memerangi pihak yang hendak memberontak kepada pemerintah dan mencegah pihak yang hendak memecah belah kesatuan kaum muslimin. Namun, jika tidak jera, hendaknya diperangi saja.(Syarah Shohih Muslim). tentunya atas perintah dari pemerintahan yang sah, bukan dengan main hakim sendiri sendiri.
Ta'at kepada pemerintah Bagian dari Ta'at kepada Nabi Shollallohu 'Alaihi wasallam.
Diriwayatkan dari shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallohu 'anhu, dari Nabi, beliau bersabda
من أطاعني فقد أطاع اللّٰه ومن عصاني فقد عصى اللّٰه ومن أطاع أميري فقد أطاعني ومن يعص أميري فقد عصاني
Siapa yang Ta'at kepadaku, berarti ia Ta'at kepada Allah ta'ala, siapa yang bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah ta'ala. Siapa yang Ta'at kepada pemimpin, berarti dia Ta'at kepadaku. Siapa yang bermaksiat kepada pemimpin, berarti dia telah bermaksiat kepadaku (HR: Al Bukhori dan Muslim).
▪Wasiat Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam Agar Mendengar dan Ta'at.
✔ Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam telah menjadikan sikap mendengar dan Ta'at kepada pemerintah sebagai dari wasiatnya.
Al Imam Ad Darimi Rohimahulloh meriwayatkan sebuah Hadits dalam sunannya dari shahabat Irbadh bin Saariyah Rodhiyallohu 'anhu beliau berkata Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam menyampaikan wejangan yang sangat menyentuh kami sampai membuat air mata kami bercucuran dan hati kami bergetar, Ada seseorang diantara kami bertanya,
يا رسول اللّٰه كأنها موعظة مودع فأوصنا. فقال: أوصيكم بتقوى اللّٰه عز وجل والسمع و الطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي
Wahai Rosululloh sepertinya ini menjadi wejangan perpisahan. Berilah kami wasiat Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam kemudian bersabda, Kuwasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan Ta'at kepada pemimpin kalian walaupun dia seorang hamba sahaya dari habasyah.
Perintah untuk mendengar dan Ta'at dalam setiap keadaan.
Nabi telah memerintahkan untuk tetap mendengar dan Ta'at kepada pemerintah dalam setiap keadaan beliau bersabda, Hendaknya engkau mendengar dan Ta'at kepada pemimpin dalam keadaan susah ataupun senang, dalam keadaan rela ataupun terpaksa, bahkan sekalipun dalam keadaan dia bertindak sewenang wenang terhadap kalian, (HR. Muslim dari Shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallohu 'anhu).
Tidak ada sikap mendengar dan Ta'at dalam kemaksiatan.
Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam Menerangkan Bahwa seorang muslim wajib mendengar dan Ta'at kepada pemerintah selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Jika memerintahkan kemaksiatan, dia tidak boleh mendengar dan Ta'at dalam kemaksiatan tersebut secara khusus. Adapun perintahnya yang lain tetap harus didengar dan dita'ati. Diriwayatkan Al Imam Al Bukhori Rohimahullah dalam Shohihnya, Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam Bersabda, Mendengar dan Ta'at kepada pemimpin menjadi kewajiban atas seorang muslim, Dalam hal yang disenangi ataupun dibenci, selama pemerintah itu tidak menyuruh kepada kemaksiatan. Namun, jika menyuruh kepada kemaksiatan, tidak ada sikap mendengar dan Ta'at. (HR. Al Bukhori).
✔ Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin Rohimahulloh mengemukakan, ketika penguasa memerintahkan sesuatu, perintahnya tidak lepas dari tiga keadaan:
1⃣ Perintahnya termasuk apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta'ala.
▪Dalam keadaan ini, wajib bagi kita untuk melaksanakannya karena hal itu perintah Allah Ta'ala, andai mereka mengatakan, TEGAKKAN SHOLAT❗Kita wajib menegakkannya sebagai realisasi dari perintah Allah Ta'ala kemudian perintahnya.
Allah ta'ala berfirman, Wahai orang orang yang beriman Ta'atilah Allah, ta'atilah Rosul (Muhammad) dan ta'atilah ulil amri diantara Kalian. (An Nisa: 59).
2⃣ Mereka memerintahkan sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta'ala.
▪Dalam keadaan ini, kita katakan, kami akan mendengar dan Ta'at kepada Allah ta'ala dan bermaksiat kepada kalian karena tidak ada keta'atan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang kholiq, Misalnya, mereka mengatakan, KALIAN TIDAK BOLEH SHOLAT BERJAMA'AH DIMASJID❗ kita katakan, tidak ada sikap mendengar, tidak pula keta'atan.
3⃣ Mereka memerintahkan sesuatu yang tidak ada perintah Allah ta'ala dan Rosul Nya, tidak pula ada larangannya.
Dalam keadaan ini, yang wajib ialah mendengar dan Ta'at. Menaatinya bukan karena mereka adalah si Ini dan si itu, tetapi karena Allah ta'ala telah memerintahkan kita untuk mena'atinya dan karena Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam telah memerintahkan kita, Beliau Shollallohu 'Alaihi Wasallam bersabda, dengar dan ta'atlah, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas. Bahkan, ketika beliau ditanya tentang pemerintah yang merampas hak rakyatnya dan bertindak zholim, beliau Shollallohu 'Alaihi bersabda, Atas mereka apa yang telah dipikulnya (Dosa) dan bagi kalian apa yang telah kalian pikul (pahala). Kita memikul kewajiban untuk mendengar dan Ta'at. (transkrip ceramah Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin yang berjudul Tho'atu wulatil Umur).
Selesai.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sumber, Buletin Al Wala wal Baro Bandung Edisi 21 tahun ke 13 1434 H/ 26 April 2013. Oleh Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Hafizhohulloh
●Channel Telegram FadhlulIslam
------------💎------------
🔑 Arsip Fawaid Ilmiyah:
https://telegram.me/fawaidsolo
------------💎------------
No comments:
Post a Comment