Tuesday, February 4, 2020

biografi abu bakar bin Abi Syaibah rohimahullah

:: BIOGRAFI ABU BAKAR BIN ABI SYAIBAH ::

::: Yang Berdiri di Tiang Ibnu Mas’ud  :::

Beliau adalah lautan 'ilmu dan lambang kokohnya kekuatan hafalan di masanya. Tak pelak 'ulama pun bersepakat akan kekuatan hafalannya dan bahkan predikat penghulu para hufazh (para penghafal) melekat pada dirinya. Nama panjangnya adalah 'Abdullah bin Muhammad bin Al Qodhi Abi Syaibah Ibrohim bin 'Utsman bin Khuwasta rohimahullah.

Sangat populer dengan kunyahnya Abu Bakar yang merupakan nisbat kepada kakeknya. Beliau lahir pada tahun 159 H atau bertepatan dengan 775 M. 

Sejak kecil Abu Bakar tumbuh di lingkungan religius dan keluarga berbasic agama. Ayahnya adalah Muhammad yang merupakan seorang qodhi (hakim) di Persia. Sang ayahanda adalah orang yang tsiqoh (tepercaya) sebagaimana ditegaskan oleh Yahya bin Ma’in rohimahullah dan yang lainnya. 

Bayangkan saja saudara kandungnya merupakan seorang hafizh yang bernama 'Utsman bin Abi Syaibah dan satu lagi bernama Al Qosim bin Abi Syaibah. Adapun Ibrohim bin Abu Bakar adalah putranya dan Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin 'Utsman adalah keponakannya.

Kakeknya yang bernama Ibrohim dengan kunyah Abu Syaibah adalah seorang qodhi di Wasith. Bahkan putra-putranya adalah para 'ulama yang senantiasa memenuhi majlis-majlis 'ilmu para ahli hadits.

Yahya bin 'Abdul Hamid Al Himami rohimahullah mengatakan, “Anak-anak Ibnu Abi Syaibah adalah para 'ulama. Mereka berdesak-desakan dengan kami setiap kali belajar dari ahli hadits.” 

Mereka semua adalah para perbendaharaan 'ilmu dan hadits, namun yang paling terhormat lagi terkenal di antara mereka adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah rohimahullah. Sejatinya Abu Bakar berasal dari Wasith, sebuah kota tua yang berada di Iraq antara Kota Baghdad dan Kota Basroh. 

Namun kemudian beliau singgah di Kufah dan meninggal di sana. Di kota itulah ia meriwayatkan banyak hadits dari sekian banyak 'ulama. Namun ia belum merasa puas dengan hanya menimba 'ilmu dari 'ulama di Kota Kufah. Hingga ia pun melakukan safari perjalanan menuju Bashroh dan Baghdad. Kedua kota ini merupakan pusatnya 'ilmu dan 'ulama di Iraq saat itu. Sampai akhirnya ia melanjutkan perjalanan 'ilmiahnya menuju ke Hijaz. 

GURU DAN MURIDNYA 

Sejak kecil beliau telah belajar 'ilmu agama dengan berbagai disiplin 'ilmunya. Gurunya yang paling senior dari sekian banyak yang ada adalah Syarik bin 'Abdillah Al Qodhi rohimahullah. Dalam hal usia dan hafalan beliau selevel dengan 'ulama-'ulama besar seperti Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rohawaih, dan 'Ali bin Al Madini. Yahya bin Ma’in lebih tua beberapa tahun di antara mereka. 

Kondusifnya lingkungan sangat mendukung perjalanan 'ilmiyah Abu Bakar dalam belajar 'ilmu agama. Pada usia empat belas tahun Abu Bakar telah mendengarkan hadits dari Syarik bin 'Abdillah. 

Di samping itu juga meriwayatkan dari 'ulama-'ulama ternama seperti Abul Ahwash, 'Abdullah bin Idris, Abu Bakar bin Ayyasy, 'Abdullah bin Mubarok, Sufyan bin Uyainah, Waki’ bin Al Jarroh, Yahya Al Qoththon, Ismail bin Iyasy, dan yang lainnya. 

Sejumlah 'ulama besar pernah mengambil riwayat darinya semisal Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu Bakar bin Abi Ashim, Baqiy bin Makhlad, Muhammad bin Wadhdah, beliau adalah seorang pakar hadits dari negeri Andalus, Al Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Abu Hatim Ar Rozi, Ya’qub bin Syaibah, Ibnu Majah, dan lain-lainnya. 

Para 'ulama pemilik kitab Shohih dan Sunan meriwayatkan hadits-hadits beliau kecuali At Tirmidzi. Al Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Bakar tanpa perantara. 

Adapun An Nasai meriwayatkan darinya melalui perantara. Imam Muslim banyak meriwayatkan hadits dari Abu Bakar bahkan lebih dari seribu hadits.

Dalam Shohihnya Muslim selalu menyebutkan kunyahnya dan kunyah kakeknya. Sedangkan Imam Al Bukhori meriwayatkan dari beliau tiga puluh hadits dengan menyebutkan namanya dan kunyah kakeknya. Jika disebutkan nama 'Abdullah bin Muhammad di antara gurunya Al Bukhori, maka yang dimaksud adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah. 

'AQIDAH DAN PUJIAN 'ULAMA 

Ibnu Abi Syaibah rohimahullah adalah 'ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan 'aqidah yang lurus. Salah satu pembuktian tentang hal itu adalah berbagai karya tulisnya yang syarat dengan faidah 'ilmiyah.

Seperti Kitabul Iman yang kemudian ditahqiq oleh Syaikh Al Albani rohimahullah. Kitab ini bertemakan definisi iman yang benar menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sekaligus bantahan terhadap kelompok menyimpang seperti Khowarij dan Murji’ah. 

Kitabnya yang lain adalah Kitabus Sunnah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah dalam Fatwa Hamawiyah nya. Al Lalikai, Ibnul Qoyyim, dan yang lainnya menyebutkan beliau dalam deretan 'ulama ahlus sunnah yang istiqomah di atas jalan salaf.

Demikian pula dalam berbagai pernyataannya, Abu Bakar menegaskan bahwa siapa saja yang tidak meyaqini bahwa Al Qur'an adalah kalamullah dan bukan makhluk, maka dia adalah seorang ahli bid’ah. 

Ke'ilmuan dan kekuatan hafalannya menuai pujian 'ulama dari masa ke masa. Secara global 'ulama sepakat tentang keadilan dan kekuatan hafalannya dalam meriwayatkan hadits. Adz Dzahabi rohimahullah menyatakan dalam Siyar A’lamin Nubala, 
“Ibnu Abi Syaibah adalah pemimpin 'ulama di masanya, penghulunya para hufazh, penulis kitab-kitab besar, lautan 'ilmu dan menjadi suri tauladan yang baik dalam kekuatan hafalan.” 
'Abdan Al Ahwazi berkisah, “Suatu saat Abu Bakar duduk bersandar di sebuah tiang, sementara saudaranya Masybudanah, 'Abdullah bin Barrod, dan lain-lain semuanya diam kecuali Abu Bakar bin Abi Syaibah. Beliau lah satu-satunya yang berbicara saat itu dengan bersandar pada tiang tersebut. 

Tiang itu, kata Ibnu Adi adalah tiang yang biasa diduduki oleh Ibnu Uqdah. Ibnu Uqdah pernah mengatakan kepadaku, bahwa inilah tiang tempat Ibnu Mas’ud mengajar kemudian diganti oleh Alqomah kemudian diganti Ibrohim, Manshur, Sufyan Ats Tsauri, Waqi’, Ibnu Abi Syaibah lalu Muthoyyin dan Ibnu Sa’id. 

Imam Ahmad rohimahullah mengatakan, “Abu Bakar adalah seorang Shoduq (jujur), dia lebih aku sukai daripada saudaranya yang bernama 'Utsman.” Al ‘Ijli menyatakan, “Abu Bakar adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya) dan penghafal hadits.”

Al Fallas menuturkan, “Aku belum pernah melihat ada seorang 'ulama yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Bakar bin Abi Syaibah. Ia pernah menemui kami bersama 'Ali bin Al Madini lalu menyebutkan 400 hadits kepada Asy Syaibani dengan hafalannya lantas bangkit dan pergi.” 

Imam Abu Ubaid rohimahullah mengatakan, “Hadits berakhir kepada empat orang, yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah yang paling mampu menyebutkan hadits (satu persatu), Ahmad bin Hanbal yang paling faqih tentang hadits, Yahya bin Ma’in yang paling banyak mengumpulkan hadits, dan 'Ali Al Madini yang paling ber'ilmu tentangnya.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Sholih bin Muhammad Al Hafizh, “Orang paling ber'ilmu tentang hadits dan cacatnya yang pernah aku jumpai adalah 'Ali bin Al Madini dan yang paling kuat dalam mengingat hadits adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah.” 

Abu Zur’ah rohimahullah mengatakan, “Aku belum pernah melihat ada manusia yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Bakar bin Abi Syaibah.” Maka 'Abdurrohman bin Khirosy bertanya, “Hai Abu Zur’ah bagaimana dengan teman-teman kami dari Baghdad?” Beliau menjawab, “Tinggalkan teman-temanmu mereka adalah orang-orang yang gersang. Aku belum pernah melihat orang yang hafalannya lebih kuat daripada Ibnu Abi Syaibah.” 

Al Khotib rohimahullah mengatakan, “Abu Bakar adalah seorang yang kokoh hafalannya dan seorang Hafizh (penghafal). Dia menulis musnad, hukum-hukum Islam, tafsir dan meriwayatkan hadits di Baghdad beserta dengan kedua saudaranya, yaitu Al Qosim dan 'Utsman.”

Ibnu Katsir rohimahullah mengatakan dalam Al Bidayah wan Nihayah, “Ibnu Abi Syaibah adalah seorang 'ulama besar Islam dan penulis kitab Mushonnaf. Tidak ada seorang pun yang mampu menulis kitab itu, sebelum dan sesudahnya.” 

Pada tahun 234 H, Al Mutawakkil mengadakan pertemuan dengan para ahli fiqih dan pakar hadits. Di antara mereka adalah Mush’ab bin 'Abdillah Az Zubairi, Ishaq bin Abi Isroil, Ibrohim bin 'Abdillah Al Harowi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan saudaranya 'Utsman bin Abi Syaibah.

Al Mutawakkil memerintahkan mereka agar menyampaikan hadits-hadits yang berisi bantahan terhadap kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah. Maka Abu Bakar duduk bermajelis di Masjid Rushofah dan menyampaikan hadits kepada kaum muslimin. Para pendengar yang hadir saat itu jumlahnya mencapai tiga puluh ribu orang.” 

KARYA TULISNYA 

Ibnu Abi Syaibah rohimahullah sangat produktif dalam menghasilkan berbagai karya tulis. Di antara karya monumentalnya adalah Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah. Kitab ini terdiri dari 15 jilid dan terhitung sebagai kitab induk pengetahuan hadits dan atsar. Penulis menyusun kitab ini dengan sistematika 'ilmu fiqih setiap bab beserta dengan hadits-haditsnya. Dimulai dengan kitab Thoharoh dan diakhiri dengan kitab Al Jamal wa Shifiin wal Khowarij. Kitab ini mencakup 37251 hadits musnad, di antaranya ada yang marfu’, mauquf, dan maqthu’. 

Ibnu Katsir rohimahullah mengatakan tentang kitab ini, “Tidak ada seorang pun yang menyusun kitab seperti ini sebelum dan sesudahnya.” Pujian Ibnu Katsir ini menggambarkan betapa kitab ini memiliki nilai lebih dan keistimewaan dibanding kitab lainnya. Tidaklah Ibnu Katsir menyandangkan pujian tersebut melainkan kepada kitab yang memang berhak mendapatkan pujian seperti itu.

Selain itu beliau juga memiliki kitab musnad, dengan nama Musnad Ibnu Abi Syaibah. Kitab ini terdiri dari 2 juz dan memuat 999 hadits shohih, hasan, dan dhoif. Kitab musnad ini hanya mencantumkan hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Lain halnya dengan kitab Mushonnaf yang juga memuat atsar shahabat dan 'ulama generasi setelahnya. Termasuk di antara karyanya adalah Kitab Al Iman, kitab Tafsir Ibnu Abi Syaibah, kitab Tsawabul Qur’an, kitab Taariikh, kitab Al Awail, kitab As Sunnah, kitab Al Maghozi, kitab Al Futuh, kitab Al Fitan, dan lain-lainnya. 

Imam Bukhari rohimahullah menjelaskan bahwa Ibnu Abi Syaibah wafat pada bulan  Al Muharrom tahun 235 H. Menurut penuturan sebagian 'ulama beliau wafat pada waktu Isya' yang terakhir. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan rahmat dan keutamaan-Nya kepada beliau rohimahullah.

Baca juga: Biografi Al A'masy Sulaiman bin Mihron

Sumber: Majalah Qudwah edisi 70 vol.06 1440 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy 'Abdullah.

https://www.atsar.id/2019/07/biografi-abu-bakar-bin-abi-syaibah.html

Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
Telegram : t.me/atsarid
Twitter: twitter.com/atsarid
Line : https://line.me/R/ti/p/%40bqg5243o
YT : https://www.youtube.com/c/AtsarID
Website: www.atsar.id

No comments:

Post a Comment