#Kajian_Manhaj
🚇AHLUSSUNNAH HANYA MENGAMBIL 'ILMU DARI 'ULAMA’ TERPERCAYA SERTA MENJAUHI PARA MAJRUHIN DAN PARA MAJHULIN
❱ Al-Ustadz Abu 'Utsman Khorisman hafizhohullah
Syari'at Islam yang dipahami dan diterapkan oleh para Shahabat Nabi membimbing kita untuk mengambil 'ilmu dari para 'Ulama’ yang telah jelas ke'ilmuan dan kekokohan manhajnya. Seorang 'Ulama’ adalah orang ber'ilmu yang telah ditazkiyah (direkomendasikan) oleh 'Ulama sebelumnya atau yang sejaman dengannya. Sesungguhnya 'ilmu Diin ini diwarisi dari Nabi [ﷺ]. Nabi menyampaikan kepada para Shahabat. Para Shahabat menyampaikan kepada para Tabi’in. Para Tabi’in menyampaikan 'ilmu kepada Tabaaut Tabi’in, dan seterusnya hingga sampai di masa kita saat ini.
Tazkiyah adalah pujian terhadap seseorang dan anjuran untuk mengambil 'ilmu dari orang tersebut. Pujian bahwa orang tersebut ber'ilmu, beraqidah dan manhaj yang lurus, atau sekedar ucapan “ambillah 'ilmu dari fulaan”. Itu adalah bagian dari tazkiyah. Tazkiyah juga memiliki kedekatan makna dengan ta’dil.
Mari kita lihat sejenak beberapa contoh mata rantai tazkiyah sejak masa Nabi [ﷺ] hingga masa Tabi’in. Dari mata rantai ini kita bisa melihat bahwa seorang 'Ulama itu adalah yang mendapat tazkiyah dari 'Ulama lain sebelumnya.
((🔥)) Nabi [ﷺ] telah mentazkiyah beberapa Shahabat untuk bisa diambil 'ilmunya, di antaranya:
{ ...وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَل... }
“Yang paling ber'ilmu dalam urusan halal dan harom pada umatku adalah Muadz bin Jabal.” [HR Ibnu Hibban]
{ خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ }
“Ambillah ('ilmu) al-Quran dari 4 orang: 'Abdullah bin Mas’ud, Salim (maula Abi Hudzaifah), Muadz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab.” [HR al-Bukhori dan Muslim]
((🔥)) Sebagian Shahabat Nabi ada yang mentazkiyah Shahabat Nabi yang lain.
Shahabat Nabi Ibnu Mas’ud memuji Ibnu 'Abbas dengan perkataan:
{ نِعْمَ تُرْجُمَانِ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ }
“Sebaik-baik penterjemah (penafsir) Al-Qur'an adalah Ibnu 'Abbas.” [Riwayat al-Hakim, dinyatakan shohih sesuai syarat al-Bukhori dan Muslim oleh adz-Dzahabiy]
((🔥)) Berikutnya, adalah tazkiyah Shahabat Nabi kepada Tabi’in.
Shahabat Nabi Ibnu 'Abbas pernah memberikan tazkiyah kepada seorang Tabi’i Jabir bin Zaid (Abusy Sya’tsaa’):
{ لو نزل أهل البصرة بجابر بن زيد لأوسعهم علما من كتاب الله عز و جل }
“Jika diturunkan Jabir bin Zaid untuk Ahlul Bashroh, niscaya akan mencukupi mereka (penjelasan) 'ilmu terhadap apa yang ada dalam Kitabullah.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliyaa’, dan Ya’qub bin Sufyan dalam al-Ma’rifah wat Taarikh dengan lafadz yang sedikit berbeda]
((🔥)) Demikian sebenarnya tazkiyah itu terus berlangsung dari generasi ke generasi hingga ke masa kita saat ini.
'Ulama’ Ahlussunnah yang ada masa ini adalah yang ditazkiyah oleh 'Ulama’-'Ulama’ Ahlussunnah yang lebih dulu meninggal atau yang sejaman dengannya.
Sebagai contoh:
—| Syaikh Robi’ telah ditazkiyah oleh 'Ulama’-'Ulama’ besar yang telah meninggal sebelumnya seperti Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Albaniy, Syaikh Ibn 'Utsaimin, Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, dan lain-lain.
—| Syaikh Bin Baaz telah ditazkiyah oleh 'Ulama’ sebelumnya lagi.
—| Demikian juga Syaikh al-Albaniy, hingga sampai kepada Rosulullah [ﷺ].
✅ Demikian tazkiyah dan mata rantai pengambilan 'ilmu itu tetap terjaga sebagai salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap kemurnian Diin ini. Tazkiyah atau ta’dil menjadi salah satu parameter penting untuk dijadikan acuan apakah seseorang bisa dijadikan rujukan sebagai 'Ulama’ untuk diambil 'ilmunya atau tidak. Selama tidak ada jarh (celaan, kritikan pedas) yang mu’tabar (bisa dijadikan acuan), maka tazkiyah dan ta’dil itu bisa menjadi pegangan.
No comments:
Post a Comment