💐📝BERSIKAP HIKMAH DALAM MENYIKAPI BID’AH
Syaikh Ubaid al-Jabiri hafidzhahullah menyatakan:
…”dan semua hal baru yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah. Jika ada seseorang muslim melakukan kebid’ahan, dalam keadaan dia tahu dan menentang (al-haq), maka hendaknya (muslim lain) berlepas diri darinya dan memboikotnya jika memiliki kemampuan dalam meng-hajr (menjauhi;memboikot)nya. Selama tidak menghasilkan mafsadah yang lebih besar dibandingkan maslahat yang diharapkan. Dalam hal ini dilihat 2 keadaan:
Yang pertama, jika Ahlussunnah kuat maka mereka menghinakan Ahlul Bid’ah dan bersikap keras dalam ucapan, mengupayakan berbagai upaya untuk mengingkari, menghinakan, dan memperingatkan (umat) dari mereka, hingga mereka terhalangi dari kaum muslimin lain dan tidak bisa membuat kerusakan pada agama mereka.
Yang kedua, jika keadaannya adalah sebaliknya. Jika kedudukan Ahlul Bid’ah kuat, maka Ahlussunnah mencukupkan diri dengan membantah kebid’ahan untuk memurnikan agama Allah, sehingga orang yang memiliki hati (yang sehat) dan mau menyimak dengan baik, serta Diennya hidup bisa memahaminya. Diharapkan saat seseorang memperingatkan (bahaya) kebid’ahan dan menjelaskan bahwa hal itu adalah bid’ah dengan dalil alQuran dan asSunnah (orang-orang semacam itu) bisa memahami dan meninggalkan kebid’ahan dan Ahlu Bid’ah.
Kadangkala seorang muslim mendapatkan ujian sehingga tidak mampu memisahkan diri dari Ahlul Bid’ah karena mereka memiliki kekuasaan, atau karena jumlahnya banyak, atau karena kekuatan, dan sebagainya, maka dalam keadaan ini Allah tidaklah membebani di atas kemampuannya. Jika ia mampu untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar, memperingatkan dari bid’ah, maka silakan dilakukan. Namun jika ia dikalahkan dalam keadaannya (dalam posisi lemah) dan tidak mampu ber-amar ma’ruf nahi munkar, maka ia mencukupkan mengingkari dengan hati, dan menghibur diri dengan ayat ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, wajib bagi kalian menjaga diri kalian (sendiri). Tidaklah orang – orang yang tersesat bisa menimbulkan mudharat bagi kalian jika kalian mendapat petunjuk (Q.S al-Maidah:105)
(transkrip ceramah Syaikh Ubaid al-Jabiri dalam menjelaskan Syarhus Sunnah lil Muzani)
🇸🇦Lafadz dalam Bahasa Arab:
...وكل محدثة بدعة فإذا أتى المسلم ببدعة عالماً معانداً فإنه يتبرأ منه نفسه ويهجر إذا قُدر على هجره ولم تترتب على هجره مفسدة أكبر من المصلحة المرجوّة وهذا ينظر فيه من وجهين :
أحدهما :إذا كانت الكفّة راجحة لأهل السنة ولهم قوة الشوكة والصولة والجولة فإنهم يذلّون أهل البدع ويغلظون عليهم القول ويجلبون عليهم بخيلهم ورجلهم استنكارا وإذلالا لهم وتحذيرا منهم حتى يحال بينهم وبين المسلمين لا يفسدوا عليهم دينهم .
الحال الثانية : أن تكون المسألة عكسية وهي أن تكون الكفة الراجحة وقوة الشوكة والصولة والجولة لأهل البدع فإن أهل السنة يكتفون برد البدع والمحدثات حتى يصفو دين الله وحتى يتفطّن من كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد ومن كان حياً حياة في دينه فإنه حينما يحذر من البدع ويبين له أن هذه البدع بدلالة الكتاب والسنة فإنه يتفطن ويحسب للأمر حسابه ويفاصل في البدع وأهلها وقد يبتلى المسلم بأن لا يستطيع مفاصلة أهل البدع لما لهم من ولاية أو من كثرة كاثرة مع قوة شوكة ففي هذه الحال لا يكلفه الله فوق طاقته إذا استطاع أن يأمر وينهى ويحذر من البدع ويردّها فليفعل وإذا غلب على أمره وما استطاع للأمر والنهي سبيلا فإنه يكتفي بالإنكار بقلبه ويتسلى بهذه الاية
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } .
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman
💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom
No comments:
Post a Comment