💥 APA YANG DILAKUKAN JIKA PEMERINTAH MEMBELA AHLI BID'AH? 🔥
✒ Al-'Allamah Zaid bin Muhammad al-Madkholi rohimahullah
🛑 Pertanyaan: Fadhilatus Syaikh, apakah wajib menta'ati pemerintah jika mereka membela ahli bid'ah, dan apakah membicarakan keburukan mereka termasuk ghibah?
✅ Jawaban: Menta'ati pemerintah disyaratkan oleh Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dalam perkara yang baik. Adapun membicarakan keburukan yang memang mereka lakukan maka ini termasuk jalan ahli bid'ah, bukan jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena menyebarkan keburukan yang ada pada pemerintah serta melakukan pertemuan untuk membicarakan hal-hal semacam ini tidak akan menghasilkan kebaikan dan upaya perbaikan, tetapi hanya menghasilkan keburukan berkepanjangan, perselisihan diantara manusia, dan kebencian terhadap pemerintah, sehingga urusan-urusan menjadi goncang dan keni'matan berganti dengan penderitaan. Maka waspadailah hal tersebut karena itu merupakan tindakan buruk yang tidak boleh dilakukan selama-lamanya!
Yang boleh adalah dengan mendo'akan kebaikan untuk pemerintah dan menyampaikan nasihat bagi yang mampu melakukannya, inilah yang bermanfaat dan berfaidah. Dan siapa yang tidak mampu untuk menyampaikan nasihat maka hendaklah dia menghubungi pihak yang mampu menyampaikan nasihat secara rahasia dengan cara yang baik, inilah yang seharusnya dilakukan.
Adapun membicarakan urusan pemerintah kaum muslimin dan politik mereka maka itu termasuk kesalahan murni yang wajib untuk ditinggalkan, karena itu termasuk sifat ahli bid'ah, bukan sifat Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah maka mereka mendo'akan kebaikan untuk pemerintah kaum muslimin walaupun mereka tidak adil dan fasik dan tidak mendo'akan keburukan untuk mereka, menampakkan kebaikan-kebaikan mereka dan tidak menampakkan keburukan-keburukan mereka. Ini merupakan perkara yang telah diketahui sebagaimana yang dikatakan oleh para 'ulama salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka hari ini. Dan tidaklah yang demikian itu kecuali karena menampakkan keburukan-keburukan mereka dan mengadakan pertemuan untuk membicarakan keburukan mereka akan mengakibatkan kejelekan, perkara yang dibenci, perpecahan, dan kekacauan yang telah diketahui oleh banyak penuntut 'ilmu.
Intinya dalil-dalil yang jelas dalam masalah ini yang tegas, diantaranya sabda Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam:
تَسْÙ…َعُ ÙˆَتُØ·ِيعُ Ù„ِلأَÙ…ِيرِ ÙˆَØ¥ِÙ†ْ ضُرِبَ ظَÙ‡ْرُÙƒَ ÙˆَØ£ُØ®ِذَ Ù…َالُÙƒَ.
"Dengar dan ta'atilah pemerintah, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas!"
(HR. Muslim)
Jadi Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam membimbing agar bersabar atas apa yang muncul dari pemerintah kaum muslimin terhadap rakyat mereka, dan beliau memperingatkan agar jangan memberontak, karena hal itu mengandung keburukan terhadap pihak-pihak tertentu dan umum.
Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf dan manhaj mereka dan manhaj orang-orang yang mengikuti mereka.
Adapun mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan kehormatan pemerintah atau 'ulama atau selain mereka walaupun mereka benar-benar melakukan kesalahan maka hal seperti ini tidak boleh.
Namun apa yang kami sebutkan bukan berarti tidak boleh memperingatkan bahaya ahli bid'ah dan orang-orang yang menyerukannya serta menyebarkannya, dan bukan berarti tidak boleh membicarakan mereka dengan ucapan yang menjauhkan dan memperingatkan manusia dari mereka.
Jadi bedakan antara ini dan itu, karena memperingatkan bahaya ahli bid'ah dan orang-orang yang menyerukannya termasuk jihad di jalan Allah dan termasuk bentuk memberi manfaat yang sifatnya luas kepada kaum muslimin, dan bukan termasuk ghibah dan fitnah yang tercela, hendaknya diketahui.
📖 Al-Aqdul Munadhdhod al-Jadid, 1/89
https://t.me/jujurlahselamanya/1714
No comments:
Post a Comment